Sabtu, 14 November 2015

Review J-Dorama : W No Higeki



   Untuk pertama kalinya aku akan menulis sinopsis singkat mengenai sebuah dorama. Terlebih dorama ini bertema misteri, suatu tema yang baru untukku. Alasanku menonton dorama ini yaitu karena pemeran utama dari dorama ini adalah Takei Emi. Salah satu aktris favoritku. Disini ia berperan ganda. Ia memainkan 2 orang dengan karakter yang berbeda. Dia memerankan Kurasawa Satsuki dan Watsuji Mako. Dia keren banget disini. Aku bisa membedakan saat ia menjadi Satsuki dan menjadi Mako karena keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Terlebih, hal sekecil mimik muka pun berbeda. Aku baru menyadari bahwa mimik muka adalah hal yang sangat penting dalam berakting. Wajah Satsuki itu dingin, datar dan dalam berbicara pun dia tipe orang yang bicara langsung pada intinya. Berbeda dengan Mako, dia sosok yang hangat, manis dan lebih banyak berbicara. Hal itu terjadi karena keduanya memiliki latar belakang yang berbeda. Satsuki yang hidup sebatang kara di negara sekelas Jepang membuat dia memiliki karakter yang suram itu. Dia rela melakukan apapun demi uang. Berbeda dengan Mako. Ia merupakan cucu dari konglomerat dan mendapat begitu banyak kasih sayang dari seluruh anggota keluarganya. Namun, dibalik itu semua ia memiliki masalah di keluarga itu.

Hasil gambar untuk w no higeki

Sinopsis :

   Pada suatu waktu Kurasawa Satsuki terjebak dalam sebuah kasus. Dia diduga telah membunuh seseorang. Lalu Watsuji Mako meneleponnya dan berkata ia memiliki alibi agar Satsuki terbebas dari tuduhan. Kemudian mereka pun saling bertukar kehidupan masing - masing. Oh iya, mereka memiliki fisik yang benar - benar mirip. Mako memberikan alibi pada detektif yang menangani kasusnya. Ia mengatakan bahwa ia ada di suatu tempat pada saat kejadian. Bukti diperkuat dengan adanya photo saat Mako ada disana. Satsuki dan Mako yang memang mirip pun mulai terbebas dari tuduhan. Tapi itu tidak berlangsung lama karena detektif itu sangat kritis. Dia mengetahui kejanggalan dari alibi tersebut. Hal ini terjadi karena uang yang dibayarkan Satsuki pada ibu apartemen memiliki sidik jari dari orang yang terbunuh itu. Selain itu fakta diperkuat dengan kebenaran bahwa Satsuki dan orang yang terbunuh itu bersama - sama saat malam dimana orang itu terbunuh dan orang - orang melihat hal itu benar terjadi.

   Banyak tragedi terjadi ketika pertukaran hidup mereka terjadi. Diakibatkan pertukaran inilah mereka mengetahui fakta bahwa mereka adalah saudari kembar. Satsuki ditelantarkan oleh keluarga Watsuji karena mereka berusaha mempertahankan aset dari perusahaan. Ada mitos apabila mereka memahat lambang w dikaki dua orang kembar maka akan terjadi malapetaka. Itulah sebabnya mereka membuang Satsuki dan hanya mengurus Mako. Mengetahui hal itu, Satsuki marah dan kecewa. Ia bertekad balas dendam dengan menjadi Mako dan mengambil harta yang keluarga Watsuji jaga. Satsuki memiliki kehidupan masa kecil yang sangat menyakitkan. Ketika Mako tumbuh dengan begitu banyak kasih sayang dan mendapatkan banyak makanan Satsuki mendapat siksaan dan merasakan kelaparan karena tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Hal itulah yang menyebabkan Satsuki rela melakukan apapun demi uang.

   Lalu tragedi apa saja yang terjadi ? Apakah Satsuki berhasil membalas dendamnya ? Untuk mengetahui hal itu alangkah lebih baik jika kalian menontonnya sendiri. Oh iya OST dorama ini sangat enak di dengar menurutku. Bahkan Takei Emi mengatakan ia merinding setiap mendengar lagunya diputar saat ending. Takei Emi menuturkan bahwa ia mendengarkan lagu itu sebelum syuting dimulai. Hal itu ia lakukan agar ia lebih mendalami peran yang ia mainkan. Lagunya pas banget sama jalan cerita dan kejadian pas ending. Lagu ini berjudul kokuhaku dan dinyanyikan oleh Ken Hirai. Ken Hirai menuturkan bahwa ia berhasil menciptakan lagu ini setelah membaca skenario dari dorama ini. Keren banget, baru baca 2 episode tapi bisa buat lagunya. Bakat yang luar biasa. Aku punya masalah yang durasinya lama aja gak bisa buat lagu hahaha.

   Di dorama ini aku belajar bahwa terkadang kita menganggap kehidupan orang lain itu lebih indah dari kehidupan kita. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Kita semua memiliki masalah atau dengan kata lain kita semua diuji dengan cara masing - masing. Kemudian di dorama ini aku jadi lebih memikirkan tentang profesi detektif. Mereka itu dituntut untuk cerdas dan kritis. Bukti itu harus jelas. Bila putih maka putih dan bila hitam maka hitam. Tidak boleh abu - abu atau tidak jelas.

   Sudah cukup untuk reviewnya. Sampai jumpa pada postinganku selanjutnya.

Minggu, 08 November 2015

Sifat - Sifat Manusia Dalam Al - Qur'an

Hasil gambar untuk al quran


   Baru - baru ini aku menemukan bacaan yang menarik untuk dibahas. Bacaan itu tentang "Sifat - sifat manusia di dalam Al - Qur'an". Memang sih poin - poin yang dibahasnya banyak. Tapi aku mau bahas beberapa aja. Beberapa sifat yang memang mau aku bahas.

   Saat aku membaca itu aku berpikir bahwa Allah itu tahu kita banget ya (manusia). Ya iyalah kan Allah yang menciptakan kita ya pasti tahu haha. Oke langsung aja kita bahas satu - persatu :

1. Manusia itu lalai

Bermegah - megahan telah melalaikan kamu. (Q.S At - Takaatsur : 1)

   Aku kurang tahu makna lalai disini. Tapi sepemahamanku mungkin manusia itu lalai dari melaksanakan perintah Allah karena sifat manusia yang memang suka bermegah - megahan. Contohnya ada manusia yang suka makan banyak hingga kekenyangan sehingga mereka malas melaksanakan sholat. Dengan contoh itu jelas manusia itu telah lalai.

2. Manusia itu tergesa gesa

"Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (Q.S Al - Isra : 11)

   Nah ini sifat yang kita banget deh. Sifat mau cepat dalam sesuatu. Bahkan dalil tentang sabar itu ada banyak banget di Al - Qur'an. Itu artinya Allah sangat tahu kita ini makhluk yang sulit untuk bersabar. Sabar itu kemampuan kita untuk menahan keinginan. Contohnya kita bisa marah tapi gak marah, bisa balas kejahatan tapi gak balas kejahatan dan kita mau cepat tapi keinginan akan cepat atau tergesa - gesa itu kita tahan. Disebabkan kesulitan dalam bersabar itulah, pahala sabar itu tak berbatas. Ada ayat yang bisa memotivasi kita untuk senantiasa bersabar yaitu :

"Sesungguhnya hanya orang - orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Q.S. Az - Zumar : 10)

3. Manusia itu pembantah yang nyata

Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (Q.S. An - Nahl : 4)

   Pembantah yang nyata dalam ayat ini mungkin bermaksud sifat manusia yang merasa benar dan tidak suka jika disalah - salahkan. Itulah kenapa manusia itu sering beralasan jika berbuat salah dan cenderung melemparkan kesalahannya pada orang lain.

4. Manusia itu suka berlebih - lebihan

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S Yunus : 12)

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. (Q.S Al - Alaq : 6)

   Dari Q.S Yunus : 12 itu aku menyimpulkan bahwa manusia itu makhluk yang tidak tahu diri. Cukup masuk akal dengan kalimat yang pernah ku dengar dari seseorang "Kita baik sama orang aja belum tentu dia baik lagi ke kita. Apalagi kalau kita jahat ?". Ya di ayat itu disebutkan sifat manusia pun begitu pada Allah. Datang pada saat butuhnya saja karena sedang mengalami masalah atau musibah. Kemudian pada kalimat 'memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan' itu menunjukkan bahwa manusia itu memiliki sifat dimana ia merasa benar dengan apa yang ia pikirkan dan apa yang ia lakukan.

   Mengenai sifat berlebih - lebihan, kita mungkin sering seperti ini. Terlalu membawa perasaan terhadap perkataan orang lain atau terlalu akrab dengan seseorang yang pada akhirnya orang yang akrab dengan kita itu bisa jadi musuh yang nyata bagi kita. Bisa juga orang yang menjadi musuh kita menjadi sahabat kita. Khususnya seorang perempuan yang fitrahnya memakai perasaan terhadap segala sesuatu. Itulah kenapa apabila perempuan membenci seseorang, besok - besoknya dia malah bersahabat dengan orang yang ia benci itu. Ya karena sifat perasaan yang memang begitu. Sifat perasaan itu naik turun. Sekarang kita benci tapi bisa jadi perasaan benci itu hilang menjadi perasaan nyaman. Itulah alasan kenapa kita jangan terlalu akrab dengan seseorang. Tapi nyatanya banyak manusia yang terlalu akrab dengan seseorang sehingga kejadian seperti contoh diatas itu sering terjadi. Oh iya, apabila kita terlalu akrab dengan seseorang maka akan timbul perasaan memiliki orang tersebut dan kita akan merasa tidak nyaman saat orang tersebut dekat dengan orang lain. Perasaan kecemburuan sosial itu akan mengganggu kita dan mengganggu teman akrab kita itu.

5. Manusia itu suka berkeluh - kesah

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. (Q.S Al - Maarij : 20)

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (Q.S Al-Fushshilat : 20)

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Q.S Al - Isra : 83)

   Sifat berkeluh kesah ini memang ada pada diri manusia. Contohnya aku sendiri yang sering khilaf jika ditimpa musibah. Terkadang aku beerpikir tidak jernih saat menghadapi masalah. Bahkan aku pernah merasa bosan akan hidup ini. Seperti materi yang pernah kudapat dari sebuah forum agama. Dalam hidup ini, manusia lebih sering merasa bosan karena aktifitas yang sama dilakukan secara terus menerus. Tapi karena aku menonton acara yang sangat inspiratif, pikiranku pun mulai berubah. Aku jadi lebih melihat sisi positif dari masih menjalani hidup di dunia ini. Sisi positifnya ialah : Kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menambah pahala dan memperbaiki diri. Sejak itu aku menghindari diri dari keluh kesah karena kebosanan itu dan lebih bersemangat untuk menambah pahala.

6. Manusia itu kufur nikmat

"Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah)." (Q.S. Az-Zukhruf : 15)

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya" (Q.S. al-Aadiyaat : 6)

   Ini sifat manusia yang ada karena standar bahagia manusia tersebut rumit. Selain itu sifat manusia itu senantiasa tidak puas dengan sesuatu. Keinginan manusia itu ada terus menerus. Mungkin hal - hal ini yang menyebabkan manusia menjadi kufur nikmat.

   Aku pernah mendengar kisah teladan tentang sosok yang luar biasa. Beliau bernama Abu Qilabah. Kisah yang luar biasa. Beliau begitu sangat bersyukur dalam kondisi kedua tangannya buntung, matanya buta dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Mungkin sekilas kita berpikir "Apa yang bisa disyukuri dalam kondisi seperti itu ?". Namun, ketika ada yang bertanya "Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya dan sebatang kara?!?. Lalu beliau pun menjawab tentang nikmat - nikmat yang telah Allah berikan padanya dan pada kita semua yang sering kali kita lalai untuk menyadari nikmat tersebut. Beliau menjawab "Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir. Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan dan mengetahui apa yang terjadi disekelilingku.". Setelah mendengar kisah itu aku jadi lebih memahami fakta bahwa Allah telah memberi banyak sekali nikmat yang mungkin tidak kita sadari. Sejak itu aku belajar untuk jauh lebih bersyukur.

Klik link ini untuk membaca kisah lengkapnya Kisah Teladan Abu Qilabah.

7. Manusia itu dzalim dan bodoh

 Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh, (Q.S al-Ahzab : 72)

   Ayat ini juga menekankan tentang amanat yang telah Allah berikan pada kita. Amanat adalah menunaikan apa - apa yang dititipkan atau dipercayakan. Mengemban amanat itu hal yang sangat sulit itulah kenapa langit, bumi dan gunung - gunung enggan untuk memikul amanat tersebut. Tapi manusia mengemban amanat itu. Hal yang sangat dzalim dan bodoh karena kebanyakan manusia itu mengkhianati apa yang telah Allah amanatkan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kerusakan yang telah manusia perbuat. Namun balasan dari mengemban amanat itu sangat besar. Sesuai dengan kesulitan manusia dalam mengembannya. Balasannya itu berupa surga dan kenikmatan.

8. Manusia itu suka menuruti prasangkanya

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Q.S Yunus : 36)

   Di ayat ini disebutkan bahwa manusia memiliki fitrah atau pembawaan untuk berprasangka. Namun Allah melarang kita untuk berprasangka buruk karena prasangka buruk itu jauh dari kebenaran. Kita harus kritis mengumpulkan bukti - bukti yang nyata terlebih dahulu agar kita terhindar dari fitnah. Seperti peribahasa klasik yang mungkin sudah bosan kita dengar "fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan". Dengan fitnah kita bisa membuat nama baik seseorang menjadi buruk. Dengan fitnah dan berprasangka buruk artinya kita telah mencemarkan nama baik dari orang tersebut. Jadi sebisa mungkin kita harus menghindari prasangka buruk itu.

   Dalam hal ini kita harus mengikuti suri tauladan kita, Rasulullah SAW. Beliau senantiasa berprasangka baik pada siapapun. Misalnya saat beliau dijahati oleh suatu kaum. Beliau bersabda "Nanti keturunan dari kaum itu akan menjadi umatku". Prasangka yang luar biasa. Aku belajar banyak dari Rasulullah SAW. Bukannya menyumpahi kaum jahat itu, beliau malah berprasangka baik dan mendo'akan kebaikan. Pada akhirnya keturunan dari kaum itu memang menjadi umat Rasulullah SAW. Dari cerita Rasulullah SAW ini kita harus belajar bahwa sebisa mungkin kita menggunakan fitrah kita sebagai makhluk yang berprasangka menjadikan fitrah itu sebagai hal positif yaitu dengan senantiasa berprasangka baik.

   Ya itu dia sifat - sifat manusia yang mau aku bahas. Tulisan ini juga aku maksudkan supaya kita lebih memahami diri sendiri dan orang lain. Memahami manusia dan sesama manusia. Semoga tulisanku ini bermanfaat dan varokah untuk kita semua. Dengan mengetahui sifat - sifat ini semoga kita bisa memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih dan sampai jumpa pada postingan selanjutnya.


Sedikit Tuangan Pikiran




   Kali ini aku mau menuangkan pikiranku dalam tulisan ini. Tulisan yang ngalor ngidul sih memang hahaha. Saat aku mendengar ustadzah Oki mengatakan islam adalah agama yang benar, agama yang hak, agama yang penuh keadilan, agama yang tidak ada kedzaliman didalamnya dan agama yang penuh dengan kasih sayang, aku merasa pikiran yang memenuhi pikiranku akhir - akhir ini terjawab. Pemikiran tentang fakta bahwa Allah begitu memuliakan manusia. Saat manusia itu berbuat keburukkan, Allah memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk menutupi aib saudaranya itu. Orang yang membicarakan keburukkan orang lain itu masuk kedalam kategori akhlak madzmumah (akhlak tercela). Perbuatan itu dinamakan ghibah atau mungkin istilah kekiniannya itu bergosip.

   Aku berpikir "Allah itu sangat baik. Bahkan ketika kita salah dan hina pun, Allah tetap menutupi aib kita". Hal ini memperkuat kalimat diatas tadi, islam adalah agama yang tidak ada kedzaliman didalamnya. Bahkan saat kita disakiti oleh seseorang, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa sabar dan ikhlas bahkan melarang kita untuk mendzalimi atau membalas kejahatan orang tersebut. Allah melarang kita dendam pada orang tersebut karena dendam itu dapat menghabiskan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar. Jelas sudah, Allah begitu membuat kita untuk nyaman. Bahkan saat kita dijahati oleh orang lain, kita akan mendapat pahala dari orang tersebut. Bila pahalanya tak cukup maka dosa kita akan dipindahkan untuknya. Agama yang begitu adil dan penuh kasih sayang. Dimana dalam situasi dijahati itu kita mendapat keuntungan seperti pahala sabar dan ikhlas jika kita sabar dan ikhlas serta pahala dari orang yang menjahati kita. Larangan dendam pun itu sebenarnya merupakan sikap yang membuat kita menjadi lebih baik karena dengan tidak dendamnya kita, kita bisa menghindari stress di kepala kita yang dengan sifat stress itu dapat membuat beban untuk kita. Kita bisa berpenyakit karena dendam.

   Didalam hadits disebutkan. Hendaknya seseorang itu berkata - kata baik atau diam. Maksudnya, hendaknya seseorang itu berkata - kata baik terlebih dahulu lalu jika dia tidak bisa berkata - kata baik maka hendaklah orang itu diam. Disebutkan bahwa bila seseorang tidak disibukkan dalam kebaikkan maka orang tersebut akan disibukkan dalam keburukkan. Agar kita senantiasa berkata baik, maka kita harus disibukkan dalam kebaikkan. Contohnya dengan senantiasa berdzikir mengingat Allah. Maka kita akan terhindar dari perbuatan buruk seperti bergosip misalnya.

   Terus aku mau bahas soal perasaan yang sering terjadi pada manusia yaitu sedih. Sedih itu boleh - boleh saja asal jangan :

1. Meratap

2. Menyakiti diri

   Begitu banyak orang yang sedih berlarut - larut hingga tanpa sadar ia menyakiti dirinya sendiri. Hal ini membuatku berpikir bahwa tubuh kita ini memiliki hak untuk tidak tersakiti dengan kesedihan kita. Jangan sampai karena kesedihan kita, tubuh dan pikiran kita terganggu dan sakit karena itu.

3. Menghentikan kebaikkan

   Begitu banyak orang yang menghentikan kebaikkan setelah sakit hati oleh seseorang. Dia memusuhinya, membatasi komunikasi dan memutus silaturahmi. Seolah - olah orang yang menyakitinya itu tidak pernah berbuat baik kepadanya. Padahal seharusnya kita sportif dalam menyikapi sifat seseorang. Saat kita menerima kebaikkan seseorang maka kita juga harus menerima sifat buruknya. Intinya kita tidak boleh mau enaknya saja dalam hal ini. Jangan hanya mau menerima kebaikkan saja.

4. Bawa kesedihan itu untuk bermaksiat

   Jangan sampai karena kesedihan yang kita rasakan, kita jadi bersikeras untuk membuat orang yang menyakiti kita merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan yaitu kesedihan. Hal ini merupakan perilaku tercela karena itu merupakan dendam.

5. Berputus asa dari rahmat Allah

   Banyak orang yang berputus asa karena kesedihan. Seperti kehilangan semangat hidup karena ditinggalkan oleh seseorang atau tidak mendapatkan apa yang diharapkan olehnya. Sedih boleh - boleh saja asal jangan berputus asa dari rahmat Allah.

   Aku juga mau bahas soal kisah teladan yang membekas untukku. Diceritakan pada suatu waktu Rasulullah SAW berkata pada para sahabat hingga 3x berturut - turut dalam waktu yang berbeda menyebutkan bahwa seorang pemuda itu ahli surga. Pemuda yang berpakaian sederhana dan berpenampilan sederhana itu memiliki sifat yang luar biasa.

   Dia bukan sosok orang yang sering bertahajud dan sholat dhuha. Dia juga tidak pandai dalam bertilawah atau mengaji. Bacaan mengajinya pun masih terbata - bata. Dia pun tidak berpuasa sunnah. Namun, dia itu senantiasa tidak menyinggung orang lain. Sekecil apapun dia menghindari untuk dapat menyakiti orang lain. Ia tidak ingin orang lain tersinggung dengan apa yang ia katakan dan apa yang ia perbuat. Ia juga senantiasa menjaga hatinya senantiasa bersih. Dia tidak menyakiti diri sendiri. Dia tidak iri, tidak marah dan tidak tersinggung atau tersakiti oleh perkataan dan perlakuan orang lain. Dia berusaha untuk menjaga tali shilaturrahim. Menjalin hubungan baik dengan siapapun dan menyambungkan kembali tali shilaturrahim yang terputus. Amalan - amalan yang luar biasa. Sesuatu yang bisa dibilang sulit untuk dilakukan oleh kita. Aku pun belajar untuk dapat melakukan hal - hal yang pemuda itu lakukan yaitu menjaga hatiku sendiri maupun orang lain untuk senantiasa bersih.

   Selanjutnya aku mau bahas tentang jawaban dari pemikiranku yang lain. Beberapa bulan yang lalu aku memikirkan sesuatu yang cukup aneh. Pemikiran itu adalah "Coba kalau kita bisa tahu pahala dan dosa kita semudah cek pulsa". Tapi sekarang aku tidak berpikir seperti itu lagi karena aku tahu sisi positif jika kita tidak tahu berapa banyak pahala dan dosa kita. Bila kita tahu banyaknya pahala dan dosa kita, kita bisa tergelincir kepada kesombongan dan menyepelekan orang lain. Padahal Allah dan Al - Qur'an sudah begitu memuliakan manusia. Dengan tidak tahunya kita akan banyaknya pahala dan dosa yang kita miliki, kita bisa lebih memuliakan orang lain. Hal itu disebabkan karena  kita sendiri tidak tahu kedudukkan kita dihadapan Allah. Bisa jadi orang yang kita sepelekan itu lebih tinggi kedudukkannya dimata Allah.

   Ya setidaknya itulah hal - hal yang ingin kutuangkan. Baiklah selamat tinggal dan sampai jumpa pada postingan berikutnya~