Jumat, 25 Agustus 2017

Gegege no nyobo : Kisah hidup istri mangaka Gegege no Kitaro

Gambar terkait






Baru - baru ini aku menonton sebuah adaptasi dorama dari otobiografi karya Nunoe Mura. Dorama ini diangkat dari kisah nyata sang penulis sendiri. Awalnya aku tak tertarik menonton dorama ini karena saat membaca sinopsisnya, tokoh utama prianya merupakan seseorang yang kehilangan lengan kirinya akibat cedera pada saat Perang Dunia II. Bukan tanpa alasan, saat itu aku berpikir dorama ini akan menceritakan kisah mengharu biru mengenai beliau dan kehidupannya. Tapi ternyata dugaanku salah besar. Dorama ini menceritakan tentang bagaimana orang hebat menjalani kehidupannya.

Sebenarnya alasan mengapa aku mengubah pikiran dari yang tadinya tidak berniat menonton menjadi begitu tertarik untuk menonton adalah karena aku membaca suatu postingan yang menyebutkan bahwa dorama ini dibumbui oleh sifat istri sang tokoh utama yang mengalami krisis percaya diri, suatu situasi yang juga aku alami. Untuk beberapa alasan ada sisi kehidupan dia yang mirip dengan kehidupanku. Tapi aku tidak menyebutkan aku sehebat dia ya hehe. Tapi aku harap aku bisa mengaplikasikan beberapa sisi luar biasa yang dia miliki dalam kehidupan yang kujalani.

Mengambil latar waktu pada era sebelum dan pasca Perang Dunia ke II, asadora 156 ini sukses menginspirasi dan menghibur para penonton setianya. Selain diadaptasi menjadi  dorama, otobiografi tersebut juga telah diadaptasi dalam bentuk film.

SINOPSIS

Iida Fumie (Matsushita Nao) adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara. Fumie mempunyai 2 kakak perempuan, 1 kakak laki - laki, 1 adik laki - laki dan 1 adik perempuan. Tinggi tubuh Fumie diatas rata - rata dan karenanya ia mengalami kesulitan dalam mendapatkan jodoh. Bahkan ketika Fumie masih kecil ayahnya sempat mengatakan ia khawatir di masa depan tidak akan ada yang memilih Fumie sebagai istri.

Pada saat Fumie berusia 21 tahun, ia mendapat omiai pertamanya. Omiai adalah pengajuan lamaran pernikahan. Pada era itu, omiai merupakan hal yang lumrah dilakukan bagi para pemuda - pemudi yang sudah memasuki usia matang untuk menikah.


Hasil gambar untuk matsushita nao gegege no nyobo
Iida Fumie.

Fumie sangat senang mengetahui ia akan dipersunting seseorang. Ia dan sahabatnya bahkan mengintip calonnya ditempat ia bekerja. Pasangan omiai Fumie adalah putra dari keluarga yang menjual makanan manis. Tapi kekecewaan menghampiri Fumie saat itu. Omiai dibatalkan karena mereka menilai Fumie terlalu tinggi.

Setelah itu ia menunggu 7 tahun lamanya hingga pada usia ke-28, ia mendapat kesempatan omiai kedua dengan seorang mangaka yang 10 tahun lebih tua darinya. Mangaka adalah sebutan untuk para pembuat komik di Jepang. Jika dalam Bahasa Indonesia, komikus. Pasangan omiai-nya kali ini memiliki keterbatasan fisik. Ia seperti yang kusebutkan sebelumnya, berlengan satu karena kehilangan tangan kirinya saat Perang Dunia II. Fumie menerima Murai Shigeru (Mukai Osamu) sekalipun beberapa orang menyangsikan kecerahan masa depan mereka. Fumie meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Tokyo setelah menikah dengan suaminya.

Hasil gambar untuk gegege no nyobo murai fumie
Shigeru beserta kedua orang tuanya saat omiai.


Hasil gambar untuk gegege no nyobo iida fumie
Fumie dan Shigeru setelah menikah.

Berbeda dengan kedua kakak perempuannya yang menikah dengan pria yang terbilang mapan. Akiko nee-chan, kakak pertama yang menikah dan menetap di Tokyo mengikuti suaminya dan Yukie nee-chan yang menikah dengan putra pemilik perkebunan dan peternakan, Fumie menikah dengan seorang mangaka yang tidak terkenal. Suaminya tinggal di pinggiran kota Tokyo yang jauh dari gemerlap ibu kota. Rumahnya dekat dengan ladang, kuil dan bahkan ada pemakaman di dekat rumahnya.

Sebelumnya aku membahas tentang Fumie. Sekarang aku akan membahas Murai Shigeru, suami Fumie. Ia adalah seorang mangaka yang menggunakan nama Mizuki Shigeru sebagai nama penanya. Ia adalah putra kedua dari 3 bersaudara. Orang tua Shigeru hanya memiliki anak laki - laki, maka dari itu ada kalanya subtitle dorama ini menyebut mereka sebagai “Murai brothers”. Keluarga Shigeru sangat unik. “Murai brothers” bahkan memberikan nama kecil pada orang tua mereka sendiri yang didasari oleh sifat dasar orang tuanya.

Orang tua Shigeru, terutama ibunya mendesak Shigeru agar segera menikah. Ibunya Shigeru, yang disebut ikaru oleh “Murai brothers” karena seringnya ia marah berkata Shigeru hampir 40 tahun dan tidak memiliki istri, masa depannya akan suram. Sebenarnya Shigeru ingin menikah bila ia telah sedikit sukses, tapi ibunya mengancam akan tinggal di rumahnya di Tokyo selama 1 atau 2 minggu dan akan terus mendesaknya agar segera menikah. Sehingga Shigeru menuruti ibunya karena ia berpikir menikah adalah satu-satunya cara untuk menghentikan serangan ibunya wkwk. Shigeru ini orangnya cuek tapi pekerja keras. Dia punya banyak sisi unik yang menyebabkan banyak kekonyolan di dorama ini.

Masa - masa awal pernikahan mereka begitu dingin. Mereka berdua adalah orang asing yang terpaksa disatukan. Selama di Tokyo, Shigeru hanya sibuk bekerja karena ia dikejar deadline pekerjaan yang memang mengharuskan ia menyelesaikan manga-nya. Hingga disuatu hari Shigeru mengajak Fumie bersepeda saat kencan pertama mereka dan salah satu destinasi yang mereka kunjungi adalah tempat terbaik shigeru. Fumie sangat antusias saat tahu akan dibawa kesana dan tidak disangka, tempat terbaik menurut shigeru ternyata pemakaman wkwk. Aku suka perkembangan hubungan mereka. Waktulah yang membuat mereka mengenal satu sama lain.

Shigeru adalah tipe orang yang sangat bersungguh - sungguh dalam mengerjakan apa yang ia kerjakan. Dia ceria dan bertanggung jawab. Tapi dia memiliki sisi jelek seperti kurang komunikasi dan beberapa hobi aneh. Ia berkata pada Fumie, “Penghasilanku tidaklah besar tapi jangan khawatir, kita akan mendapatkan uang selama aku menggambar.”


Hasil gambar untuk gegege no nyobo manga help shigeru murai fumie
Fumie saat membantu Shigeru membuat manganya.

Dunia per-manga-an ternyata suatu bisnis yang sulit. Itu adalah bisnis dimana seseorang belum tentu mendapatkan uang sekalipun telah bekerja keras. Dan ini terjadi pada keluarga kecil mereka. Pengalaman pahit seperti manga yang tidak laku dijual, ditipu pihak penerbit, pihak penerbit yang baik mengalami keterpurukan dan semacamnya hadir menyapa kehidupan pernikahan mereka. Bahkan Shigeru pernah membungkuk dan memohon secara mendalam pada suatu penerbit agar bersedia menerbitkan karyanya. Pihak penerbit yang ini sangatlah pelit dan memperlakukan Shigeru dengan tidak sopan. Shigeru jatuh sakit saat akan memberikan skrip manganya ke penerbit itu, Fumie berkata ialah yang akan memberikan skrip manganya. Disana Fumie dibayar setengah dari uang bayaran yang seharusnya ia terima. Fumie sangat kaget dan sedih saat melihat manga yang dibuat Shigeru, disana tergambar kisah shoujo manga dan tertulis nama Mizuki Youko sebagai nama pena-nya. shoujo manga adalah istilah untuk manga yang mengarah para perempuan sebagai target pembacanya. Ini bertolak belakang dengan karya Shigeru yang didominasi oleh manga horror atau manga tentang perang.

Tidak hanya sampai disitu, keluarga mereka diuji dengan hal lainnya. Mereka tidak punya uang untuk biaya persalinan Fumie sehingga Fumie meminta Shigeru untuk menggadaikan kimono miliknya. Shigeru menolak ide ini tapi Fumie membujuknya. Fumie meyakinkan Shigeru mereka pasti bisa menebus barang itu lagi. Mereka juga pernah kehilangan listrik karena tidak mampu membayarnya dan bahkan mereka tidak punya uang untuk membeli tisu saat Fumie sakit flu.

Kombinasi pasangan ini benar - benar pas. Sekalipun dililit masalah ekonomi yang sedemikian peliknya, Fumie tidak banyak menuntut suaminya. Dia tidak mengeluh dan tidak marah akan situasi yang ada. Dia adalah sosok istri yang pandai bersyukur dan senantiasa mendukung suaminya. Shigeru juga tahu posisinya sebagai suami yang wajib menafkahi. Sifat - sifat inilah yang membuat mereka jarang cekcok dan sekalipun cekcok, itupun tidak bertahan lama.

Diantara semua tokoh yang ada, ada satu tokoh yang sangat jujur. Dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan. Ia yang Shigeru kenal sejak kecil menganggap dirinya sebagai seseorang yang tidak bisa dipisahkan dari Shigeru. Dia kerap membuat masalah dan biasa memanggil Shigeru dengan sebutan Gege karena saat kecil Shigeru tidak bisa menyebut dirinya sebagai Shigeru. Shigeru salah melafalkan namanya menjadi Gegeru. Dia bernama Uraki Katsuo (Sugiura Taiyo). Uraki pernah meminta Fumie dan Shigeru berphoto bersama dengan bayi pertama mereka. Maklum, saat itu era 1960-an dan saat itu kamera adalah hal yang asing. Uraki berkata ia ingin mengabadikan momen keluarga miskin tapi bahagia hahaha, aku kaget baca translate-nya. Kok bisa ya kalimat ini muncul di stasiun TV nasional Jepang XD. Selain itu Uraki juga selalu meragukan keberhasilan Shigeru. Ia sering menakut-nakuti Shigeru dan berkata tidak ada ceritanya mangaka sukses di usia 40-an. Dia adalah tokoh yang menganggap Shigeru tidak akan meraih kesuksesan sepanjang hidupnya.

Kehidupan keluarga Shigeru mulai membaik sejak Shigeru mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah satu dari dua penerbit terbesar di Jepang. Kali ini karya Shigeru dipublikasikan sebanyak 400.000 salinan. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya dicetak sebanyak 2.000 salinan saja. Seiring dengan meroketnya popularitas manga Shigeru, kini ia mendapat banyak pekerjaan. Bahkan Shigeru memerlukan dan merekrut beberapa orang untuk menjadi asistennya. Manga Shigeru juga tayang dalam bentuk anime di TV nasional Jepang.

Fumie dan Shigeru dikaruniai dua anak perempuan. Anak pertama bernama Aiko dan karakternya mirip dengan Fumie. Dia anak yang pemalu dan sering menyembunyikan masalahnya. Sedangkan anak kedua bernama Yoshiko. Dia unik seperti ayahnya. Yoshiko kecil mirip Shigeru ketika kecil. Ia mengutamakan hal yang membuatnya tertarik dan kerap melakukan hal tak berguna. Yoshiko dan Shigeru melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan orang.

Contohnya terlihat saat Fumie kerap ditelepon oleh TK karena putri bungsunya itu sangat aktif di sekolah. Ia memiliki imajinasi tinggi dan bertindak sesuai dengan apa yang ia senangi. Shigeru bertanya kenapa Fumie ditelepon lalu Fumie menjawab kalau Yoshiko kabur saat mata pelajaran berlangsung. Ia tidak ada dikelas dan ketika gurunya mencari, ternyata Yoshiko sedang bermain ayunan sendirian. Fumie menasehati Yoshiko. Ia berkata, Yoshiko bisa bermain ayunan saat istirahat. Namun Yoshiko mengelak, ia berkata anak - anak lain akan bermain ayunan juga. Jadi dia tidak bisa bermain ayunan saat istirahat. Mendengar itu, Shigeru berkata, “Oh jadi ketika yang lain ada dikelas, kau bisa memainkan ayunan sesukamu ya. Ide bagus!” ucapnya seraya mengelus kepala Yoshiko hahaha. Fumie meminta Shigeru jangan memujinya. Lalu Shigeru bertanya apa yang salah dari ayunan. Fumie meluruskan, bukan itu maksudnya. Masalahnya adalah Yoshiko sering kabur dari kelas. Shigeru menenangkan, ia berkata Yoshiko akan memperbaiki sifatnya seiring dengan berjalannya waktu.

Waktu berlalu begitu cepat. Kini Aiko telah lulus kuliah dan bekerja menjadi guru disuatu sekolah dan Yoshiko sudah lulus SMA. Cerita dorama ini berakhir dengan percakapan Fumie dan Shigeru. Shigeru berkata ia bersyukur mempunyai istri seperti Fumie. Perjalanan mereka masih panjang kemudian Fumie mengangguk dan mereka pun melanjutkan langkahnya.

KOMENTAR PENULIS

Alur kehidupan yang luar biasa! Itu yang ingin kukatakan dari jalan cerita kehidupan Fumie. Aku mengerti kenapa Fumie tidak menikah dengan putra pemilik toko makanan manis itu. Alasannya karena Fumie terlalu luar biasa untuk laki - laki biasa. Seperti pepatah klasik yang sering kita dengar, laki - laki hebat dan wanita hebat itu ditakdirkan untuk bersama. Shigeru, walaupun dengan keterbatasan fisiknya, dia adalah orang yang mandiri dan ceria. Ia bahkan merasa beruntung bisa pulang dengan selamat ke negara asalnya mengingat banyak rekan Shigeru yang lain gugur di medan perang. Dia menjalani hidup dengan prasangka baik. Ia berkata, “Kita tidak bisa bertahan hidup bila terus merasa tertekan. Tidak ada gunanya merisaukan sesuatu yang tidak kita miliki.”

Selain pembelajaran diatas, ada beberapa pembelajaran lain yang kudapat dari dorama ini. Misalnya Ayah Fumie yang berternak lebah disaat keterbatasan gula dan berganti - ganti bisnis agar sesuai dengan zaman. Disini aku belajar bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan, kita harus menghadapinya dengan bijak dan cerdas. Tugas kita adalah survive dalam keadaan apapun. Sisi lain yang Ayah Fumie ajarkan adalah sisi tegasnya yang ternyata menyayangi anak - anaknya. Contohnya saat dia memaksa Yukie nee-chan untuk menikahi keluarga petani. Ia berkata, “Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi setelah perang. Menikahkanmu dengan petani artinya kau tidak akan kesulitan dalam hal makanan ”  Seketika aku langsung mengerti kenapa banyak orang tua yang memilih dan memilah calon menantunya. Alasannya demi kebaikkan anaknya sendiri. Walaupun jangan terlalu berlebihan juga sih, mengingat menikah itu sendiri merupakan ibadah kan.

Untuk kalian yang tertarik menonton dorama ini, jangan khawatir. Sekalipun episodenya ada banyak (156 episode) tapi durasinya hanya 15 menit per-episode kok. Walaupun tetep aja sih, download-nya cape hahaha. Mungkin ini saja yang ingin kutulis. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa~

Celoteh mengenai buku : Berkarya tanpa jeda


Hasil gambar untuk berkarya tanpa jeda fachmy casofa




Jadi ceritanya, libur lebaran kemarin aku mau beli buku baru. Niatnya sih beli novel Cinta Dua Kodi karya mbak Asma Nadia, tapi ternyata stok novel tersebut sedang kosong di toko buku yang paling dekat dari rumahku itu. Alhasil aku nyari alternatif lain dengan mencari buku secara random. Ya barangkali ada buku yang mengundang minat bacaku, pikirku kala itu. Dan ternyata dugaanku saat itu benar. Aku menemukan buku yang akan kuulas diartikel ini.

Buku berjudul Berkarya tanpa jeda ini ditulis oleh Fachmy Casofa. Satu buku lagi yang membakar semangat pembacanya agar senantiasa berkarya. Tadinya aku berpikir isi buku ini akan membahas tokoh - tokoh cerdas dimasa kejayaan islam. Namun ternyata dugaanku salah. Walaupun ada sedikit cerita tentang tokoh - tokoh cerdas tersebut namun, hal itu tidak terlalu ditekankan. Isinya lebih ke inspirasi dan motivasi yang disampaikan dalam beberapa bab.

Ada banyak pembelajaran yang kudapat dari buku ini. Salah satunya adalah memanfaatkan waktu dengan sebaik - baiknya. Waktu yang merupakan salah satu nikmat yang tak bisa tergantikan, jelas memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Didalamnya bisa timbul karya atau bahkan malapetaka jika kita tidak mempergunakannya untuk hal yang positif. Kita harus jadi muslim padat karya, muslim yang menjadikan manfaat sebagai tolak ukur perbuatannya. Muslim yang hidupnya ia persembahkan untuk kemuliaan dirinya, keluarga, umat dan agama. Menjadi orang yang seluruh usianya diberkahi oleh Allah.

Bahasanku diatas adalah inti dari buku ini. Selain ingin membahas hal diatas, aku juga ingin membahas tentang salah satu imam besar periwayat hadits, Imam Bukhari. Beliau merupakan tokoh dibalik terbitnya kitab yang berjudul shahih Al – Bukhari, kitab yang dijadikan sebagai referensi kedua setelah Al - Qur’an oleh kaum muslimin. Didalamnya ada ribuan hadits Nabi yang statusnya sahih. Diriwayatkan bahwa saat pengumpulan, pengurutan dan pembagian hadits kedalam bab demi bab, beliau berpindah - pindah selama 16 tahun. Sebuah perjuangan yang luar biasa untuk menyusun suatu kitab yang kelak akan memukau begitu banyak pasang mata karena indahnya islam.


Mungkin hanya ini yang bisa kutulis mengenai buku ini. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa.

Belajar berkarya dan berjuang dari ibu Tanaka Yoshiko


Hasil gambar untuk tanaka yoshiko die


Jika kalian pernah menonton dorama Seigi no mikata, mungkin kalian akan ingat tokoh yang menjadi Nakata Haruko, ibu dari 2 tokoh utama dari dorama ini. Aku menonton dorama ini di tahun 2017 dan baru mengetahui kabar duka ini beberapa minggu lalu. Pemeran mama di Seigi no mikata ini ternyata telah meninggal dunia pada 21 April 2011 silam setelah berjuang melawan kanker payudara. Aku sangat kaget mengetahui kabar ini. Padahal kala itu, ibu Tanaka Yoshiko ini baru menginjak usia 55 tahun. Usia yang begitu muda untuk standar Jepang yang warga negaranya memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Ya, sebagai negara maju setahuku fasilitas kesehatan dan kesejahteraan penduduknya jelas menjadi nomor satu yang tidak bisa ditawar - tawar lagi.

Pada masa mudanya, ibu Tanaka Yoshiko adalah anggota vokal grup yang terkenal di era 70-an. Terdiri atas 3 member, Candies menduduki puncak popularitas kala itu. Ibu Tanaka Yoshiko debut dengan nama Sue sebagai nama panggungnya. Hmmm, pantas saja ia begitu cantik, bahkan diusia tuanya. Ternyata dia anggota semacam girlband gitu. Ya, seperti AKB48 mungkin, namun di era 70-an. Bahkan menurutku ia lebih cantik dari Youko dan Makiko di Seigi no mikata. Di dorama itu dia memerankan tokoh sebagai ibu yang bahagia dan penuh keceriaan. Tidak heran aku begitu terkejut, ternyata beliau tetap berkarya sekalipun berjuang untuk sembuh sejak didiagnosis penyakit kanker payudara di tahun 1992. Dia mampu menghidupkan keceriaan, sehingga tak terpikirkan sedikitpun bahwa ia sedang diuji penyakit seberat ini. Dorama Seigi no mikata tayang di tahun 2008, terhitung  3 tahun sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya.


Gambar terkait
Vokal Grup Candies.

Hasil gambar untuk tanaka yoshiko
Ibu Tanaka Yoshiko semasa muda.


Sebelum meninggal dunia, dia sempat merekam pesan perpisahannya. Salah satu pesannya adalah ia berkata ia masih ingin berperan dalam film maupun dorama. Ia ingin melanjutkan karirnya sebagai seorang aktris. Ya, sekalipun dia diuji oleh suatu penyakit berat, dia tetap aktif di dunia seni peran. Itu yang membuatku salut pada beliau. Jika kalian ingin mendengar pesan perpisahannya secara lengkap, kalian bisa memutar video yang terlampir dibawah ini :






Mungkin hanya ini yang ingin kubahas mengenai beliau. Semoga kita bisa mengambil pembelajaran dan sampai jumpa.

Sabtu, 22 Juli 2017

Ashida Mana : Artis cilik yang kini beranjak remaja



Gambar terkait

Beberapa minggu terakhir artis cilik imut ini menarik perhatianku. Aku takjub akan kepiawaiannya dalam ber-akting sebagai peran utama di sebuah dorama yang begitu menguras air mata. Ia berhasil berperan sebagai gadis cilik yang mendapat tindakan kekerasan dari lingkungan keluarganya sendiri. Namun tokoh yang ia perankan, Michiki Rena begitu apik menyembunyikan penderitaan yang ia alami. Ia berkata seseorang hanya harus berpikir tentang apa yang ia sukai agar bisa bahagia.

Sebenarnya dorama sedih tadi bukanlah dorama pertama Mana-chan yang kutonton. Sebelumnya aku menonton dorama Our House, sebuah dorama yang juga ber-genre keluarga. Disana Mana-chan berperan sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Ia mengambil alih tugas yang cukup berat sejak ibunya meninggal. Ia juga menentang kehadiran ibu tiri yang kini telah hadir di keluarganya. Sebenarnya Sakurako (peran Ashida Mana di dorama ini, red) memiliki seorang kakak laki - laki, namun karena ia adalah seorang anak laki - laki, ia jadi kurang bisa diandalkan jika harus mengemban tugas untuk mengurus pekerjaan rumah seperti memasak dan semacamnya. Dari dorama ini aku belajar tentang seorang ibu yang ideal. Ibu yang begitu dicintai dan dirindukan oleh seluruh anggota keluarga. Ibu yang penuh cinta dan memberikan kehangatan.


 Gambar terkait


Baiklah. Kita akan bahas Ashida Mana lagi. Namanya mulai melejit sejak membintangi dorama Mother di tahun 2010. Kala itu ia baru berusia 6 tahun namun ia mampu menjiwai peran yang ia mainkan. Aku aja yang jarang menangis nonton dorama mampu menangis menonton dorama ini. Dorama sepanjang 11 episode tersebut melihat sisi seorang ibu dari berbagai sudut pandang. Baik itu ibu kandung, ibu angkat maupun calon ibu. Seorang wanita telah mengambil langkah yang jauh lebih besar bila telah menjadi seorang ibu. Selain itu, cinta antara satu orang dan orang lainnya dan dalam hal ini ibu angkat dan anak angkatnya adalah cinta yang setara dengan rasa cinta karena hubungan darah. Dengan kata lain, tanpa hubungan darah pun kita semua bisa saling mencintai.

Ashida Mana lahir di Prefektur Hyogo, 23 Juni 2004. Ia hobi membaca buku. Ia seorang aktris, penyanyi, dubber dan bintang iklan. Dari Ashida Mana aku belajar bahwa manusia adalah makhluk yang luar biasa. Seorang anak kecil bisa ber-akting di usia yang masih begitu muda. Ya, di usianya tersebut ia sudah memiliki bakat dan bisa mengembangkannya.

Mungkin ini saja yang bisa kubahas mengenai Mana-chan. Jujur saja, informasi mengenai Mana-chan masih begitu terbatas. Yang kuketahui mengenai dia sekarang adalah, usianya di tahun 2017 ini sudah menginjak 13 tahun dan sudah masuk SMP sejak musim semi tahun ini.


Hasil gambar untuk ashida mana smp



Sekian untuk artikel ini. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa.

Ulasan lagu Jung Seung Hwan - If it is You


Hasil gambar untuk jung seung hwan if it is you mp3

Beberapa minggu lalu aku menonton Drama Korea Another Oh Hae Young. Soundtrack drama ini benar - benar bagus, aku hampir menyukai semua lagunya. Diantara lagu - lagu tersebut, ada lagu yang berjudul If it is you yang dinyanyikan oleh Jung Seung Hwan. Lagunya sangat enak untuk didengar. Ketika aku mencari artinya, kutemukan translate seperti di bawah ini :

Mengapa begitu sulit bagimu untuk melihatku mencoba ?
Aku terkejut menyadari seberapa terlukanya aku karenamu.
Hari - hariku berat.
Bahkan mimpiku menyakitkan.

Jika dirimu, bagaimana ?
Jika hari - hari beratku menjadi milikmu ?
Jika kau sehancur diriku, megertikah ?
Sakit yang kualami, hingga hatiku hampir meledak.
Seberapa aku menginginkanmu ?
Jika aku ialah dirimu, aku akan mencintaiku.
Hatiku senantiasa muram.
Aku takut.

Mereka bilang kau akan bahagia ketika jatuh cinta.
Siapa bilang ?
Karena cinta yang kutahu adalah melihatmu dari belakang.

Aku tahu kau sudah menjawabku.
Aku tahu arti dari jawaban yang tak bersua.
Tapi aku berpura - pura tidak tahu dan bertahan.

Tahukah kau apa yang kulakukan beberapa hari ini ?
Bahkan aku tak bisa tidur dan tak bisa menelan apapun.
Tahukah kau aku menjadi semakin hancur saat melihatmu ?
Aku merasa hampir meninggal.
Meski tak mungkin kau datang padaku.
Meski kutahu kau melihat kearah lain.
Aku tetap tak bisa melepaskanmu.

Sebenarnya translate diatas merupakan Bahasa Inggris. Aku mencoba mengalihkan bahasanya menjadi Bahasa Indonesia. Aku harap arti yang kucoba tafsirkan diatas mudah terpahami dan tidak terlalu melenceng dari aslinya hehe. Karena kuakui, aku harus belajar lebih banyak lagi jika ingin membuat arti yang lebih baik.

Menulis translate diatas sangat membuatku galau. Sebuah lagu tentang kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Semuanya diutarakan dengan begitu jujur. Mengenai kisah patah hati seperti ini, seingatku aku pernah merasakannya 2 kali. Ini terjadi saat aku masihlah anak ingusan yang begitu naif. Meskipun begitu, aku tidak semenderita orang yang mengalami situasi seperti dalam lagu ini. Kalau lagu ini mah sih namanya nyakitin diri sendiri. Tapi selepas mengenai itu, yang perlu kita lakukan hanyalah menikmati lagunya saja. Jika kalian ingin mendengarkan lagu ini, kalian bisa mendengarnya dengan memutar video dibawah ini :




Selain versi Jung Seung Hwan, lagu ini juga pernah dinyanyikan oleh selebriti Korea Selatan lainnya, salah satunya Rose Blackpink. Suara Rose ini masyaAllah sekali. Benar - benar mampu mewakili suara seluruh wanita di berbagai belahan dunia yang menghidupkan lagu galau ini. Aku kaget banged pas tahu dia lahir di tahun 1997, tahun kelahiran yang sama dengan tahun kelahiranku. Mungkin kekagetanku ini agak berlebihan ya, tapi alasan mengapa aku kaget adalah karena sangatlah jarang aku menemukan penyanyi khususnya penyayi asal negeri ginseng yang lahir di tahun 1997. Jika kalian ingin mendengar lagu ini dinyanyikan oleh seorang wanita (dan dalam hal ini dinyanyikan oleh Rose Blackpink, red), kalian bisa memutar videonya dibawah ini :





Mungkin itu saja yang ingin kubahas. Pertama kali bahas lagu eh lagu yang galaunya kebangetan hehe. Tapi ya semoga tulisanku ini bermanfaat dan sampai jumpa diartikelku selanjutnya.

Antara Imam Syafi’i, ilmu dan cerita (tentang) hijrah


Hasil gambar untuk ilmu buku

Beberapa hari lalu aku mendapat materi mengenai kisah Imam Syafi’i. Lebih tepatnya tentang kecintaan Imam Syafi’i terhadap ilmu. Aku semakin takjub pada beliau. Pada saat itu Imam Syafi’i hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya dalam menuntut ilmu. Saat itu ia tidak mampu membeli carikan kertas guna mengabadikan suatu ilmu. Ia mencari alternatif lain yaitu dengan menuliskan ilmu - ilmu yang ia dapat dalam tulang, pecahan tebikar, dan pelepah kurma.

MasyaAllah! Siapa yang mengira, seseorang yang terbatas seperti beliau dikemudian hari menjadi sosok yang begitu besar. Seseorang yang masih dikenal hingga kini, seakan zaman tak memudarkan sosoknya. Manisnya ilmu beliau masih bisa kita rasakan.

Ia mengabadikan ilmunya dalam tiap goresan pena. Disebutkan dalam kutipan beliau, “Ilmu bak buruan dan catatan adalah pengikatnya.” Ia adalah sosok yang ahli di bidang sastra, agama, Bahasa Arab termasuk kedokteran. Mengetahui semua ini, tidak heran jika sebelum aku tahu kisah beliau, aku sempat membaca suatu kutipan yang mendeskripsikan akan pentingnya ilmu. Ini kutipannya :

“Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus menahan perihnya kebodohan.” ~ Imam Syafi’i.

Baik, seperti judul diatas. Kita juga akan membahas tentang hijrah. Kenapa aku menyandingkan kata hijrah dengan beliau ? Karena bahasanku tentang hijrah sangat berkaitan dengan pemikiran beliau tentang hijrah. Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya pindah. Dalam bahasa Indonesia sendiri, pindah itu tentu saja mengalami perubahan. Jadi dalam hal ini, apapun yang berubah baik sifat, barang maupun tempat, artinya itu adalah berhijrah. Tentu saja berhijrah ini dalam konteks yang positif yakni berubah menjadi lebih baik.

Dalam salah satu kutipannya, Imam Syafi’i pernah meyatakan bahwa salah satu ciri orang berilmu dan beradab adalah orang yang meninggalkan kampung halamannya dan pergi untuk memperoleh hal baru yang memang hanya akan ia dapatkan bila ia berhirah yakni : Teman yang lebih banyak, Ilmu yang lebih baik dan Rejeki yang lebih banyak.

Bahkan di suatu sya’ir, Imam Syafi’i mengibaratkan berhijrah dengan perumpamaan yang indah dan logis. Singa yang kuat tidak akan mendapat mangsa jika tidak meninggalkan sarangnya. Setajam apapun anak panah itu tak berguna jika tak dibidikkan. Bijih emas yang tetap didalam tanah itu tiada harganya.Itulah sepenggal sya’ir tersebut.

Imam Syafi’i adalah tokoh yang juga ahli dalam bidang kedokteran. Kecintaan beliau terhadap ilmu kedokteran terlontar melalui petuahnya yang berbunyi, “Aku tidak mengetahui suatu ilmu sesudah halal dan haram yang lebih utama daripada ilmu kedokteran.”  Tidak heran sih beliau berpikir demikian. Faktanya penyakit bisa membatasi aktifitas seseorang. Waktu yang apabila ia sehat bisa ia gunakan untuk berkarya, malah ia habiskan di tempat tidur. Ikhtiar medis tentu saja diperlukan dan untuk menunjang itu, mempelajari ilmu kedokteran adalah hal wajib yang perlu dilakukan.


Inilah yang ingin kubahas mengenai Imam Syafi’i. Aku harap bahasanku ini berefek tidak hanya pada diriku, tapi menginspirasi bagi kita semua yang membaca ini maupun yang memang mengenal beliau karena keharuman sosoknya. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa~

Juken no Cinderella : Kala kisah Cinderella tidak hanya tentang cinta


Gambar terkait

Kali ini aku ingin membahas tentang dorama yang tayang tahun 2016 kemarin. Aku suka tipe cerita seperti ini, sebuah kisah yang penuh dengan perjuangan.

Dorama ini bercerita tentang Maki Endo (Kawaguchi Haruna) yang sedang duduk di tahun terakhir masa SMA-nya. Ia memiliki masa - masa sulit dalam hidupnya karena ia hanya dibesarkan oleh ibunya, ayah Maki pergi meninggalkan keluarga kecil tersebut saat Maki masih kecil. Selain berstatus sebagai siswa, dia juga bekerja part time di beberapa tempat guna menyambung hidup dan aktivitasnya. Hingga suatu ketika, takdir mempertemukannya dengan seorang mantan guru les yang terbilang sukses karena kerap membantu anak - anak didiknya lolos seleksi masuk Universitas Tokyo. Singkat cerita, Igarashi membantu Maki untuk mengejar mimpinya masuk Universitas Tokyo guna meningkatkan kualitas ekonominya.

Ide ini ditentang keras oleh ibu Maki. Ibunya punya prinsip hidup yang bertolak belakang dengan prinsip Maki. Maki ingin melepaskan penderitaannya dengan menjadi orang sukses dikemudian hari. Sedangkan ibunya adalah tipe orang yang bertindak tanpa berpikir panjang dan cenderung bertindak sesukanya. Kalau kata orang sunda mah dia itu makarep sorangan. Dia kabur dari rumahnya lalu kembali ke rumah dengan hutang - hutang yang sulit terbayar. Keluarga Maki seakan sudah terbiasa terlilit masalah ekonomi. Hal ini membuat Maki menjadi orang yang kuat dan bermimpi besar. Maki tidak ingin menjalani hidup yang menyedihkan seperti ibunya.

Walaupun ibu Maki orang yang seperti itu, tapi ia tetaplah seorang ibu yang menyayangi putri semata wayangnya itu. Pada akhirnya ia mendukung mimpi putrinya dan memuji Maki sebagai anak yang cantik dan pintar yang mirip seperti dirinya hehe. Benar - benar ibu yang narsis. Maki lolos ujian masuk Universitas Tokyo dan menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi dengan bantuan Igarashi sensei yang menjadi tutornya dalam belajar dan senantiasa menyemangati Maki.

Akhir dorama ini membuatku sedih dan senang secara bersamaan. Aku sedih karena Igarashi sensei meninggal setelah berjuang melawan penyakit tumor otaknya. Disisi lain aku senang melihat perjuangan Maki berbuah manis. Aku suka scene dimana Maki dengan setelan rapi masuk ke Universitas Tokyo. Apalagi ini terjadi di musim semi, saat dimana bunga sakura mekar dengan indahnya. Seakan merayakan sekaligus menyambut kehadiran Maki di Universitas prestisius tersebut.

Selain kisah diatas, dorama ini juga membahas tentang mantan istri Igarashi sensei dan sekelumit kisah cinta segitiga Maki. Diceritakan Maki berteman baik dengan salah satu siswa di SMA-nya yang juga berjuang ingin masuk ke Universitas Tokyo. Siswa yang bernama Yuta Okita (Yamada Yuki) ini lambat laun akan menyukai Maki. Kisah - kisah ini hanya menjadi bumbu yang tidak terlalu ditekankan.

Saat aku melihat Yuta untuk pertama kalinya, aku merasa dia adalah pemeran Kin-chan di Itazura na kiss ~ Love in Tokyo 2013. Dan ya, itu benar. Aku anggap kehadiran Yamada Yuki menjadi bonus dari dorama ini hehe. Mengingat aku menonton dorama ini karena tertarik dengan perjuangan untuk mencapai kesuksesan, bukan karena Yamada Yuki.

Dorama ini diangkat dari novel berjudul sama karya Hideki Wada yang dipublikasikan di tahun 2008 silam. Novel ini juga sempat dibuat versi filmnya di tahun 2008. Aku melihat sisi kehidupan dari dorama ini. Tentang hidup yang tidak selalu mulus dan tentang perjuangan agar senantiasa bangkit saat menghadapi hal - hal yang tidak kita sukai.


Ya mungkin itu saja yang ingin kutulis mengenai ini. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa.